Posted on Monday, August 01, 2016

Dendam, berbaloikah?

Dalam hidup ini, kita mungkin berhadapan dengan pelbagai karenah manusia. Mungkin kita buat kesilapan, tapi kesilapan itu tidak dimaafkan, sebaliknya dijadikan alasan untuk menaruh dendam. Atau, kita dianiayai, dan kerana itu kita merasa dendam itu adalah pembalasan terbaik. Supaya orang itu tahu betapa sakitnya hati kita. Supaya orang itu tahu betapa bencinya kita. Tapi dendam, berbaloikah? 


Memetik pandangan pakar psikologi berhubung isu membalas dendam ini:

"According to social psychologist Kevin Carlsmith of Colgate, the reason for revenge is to achieve catharsis. However, his recent study suggests that revenge is, in fact, counterproductive to achieving that goal. The study explains that those who seek to punish continue to think about the perpetrator, keeping the pain and the anger very much alive in their minds, while those who "move on" or "get over it" think less about the perpetrator. Carlsmith's team tested this theory by staging an interactive game where players could earn money if they all cooperated with one another. However, if a player did not cooperate, he could earn more at the expense of the others. Researchers planted certain "free riders" who would encourage everyone else to cooperate, but would later not cooperate himself. Two groups were tested--one that could punish the "free rider" (and they all did), and one that could not punish.


Interestingly, the results showed that revenge was not as sweet as it sounds. The punishers reported feeling worse than the non-punishers, but also predicted that they would have felt far worse if they hadn't been able to punish. On the other hand, the non-punishers, the happier group, believed that they would have been happier if they had the opportunity to seek revenge against the "free rider."

What does this all mean?

Carlsmith says, "Rather than providing closure, it does the opposite: It keeps the wound open and fresh."

He suggests that when we don't get revenge, we can trivialize the event. We are able to tell ourselves that because we didn't go crazy (hacking away our boyfriend's body parts), it wasn't the end of the world, after all. That way, it's easier to move on.

The verdict?

Studies say no to revenge. It only hurts yourself. Still, love, hate or hurt can drive any woman crazy, so men out there, please be on your best behavior."



So? Dendam itu merosakkan jiwa orang yang memilikinya, lebih daripada diri orang yang menjadi sasaran kebencian dan dendam. Lebih menyakitkan hati, orang yang dia dendam itu, simply ignore, tak ambil peduli, move on dengan hidup dia, dan menjalani kehidupan dia dengan hati yang berlapang dada. Kita yang menyimpan dendam itu dapat apa? Sakit hati. Oh tidaklah berbaloi. 

Dendam, menjadikan kita tidak boleh move on, menunjukkan jiwa kita yang lemah, yang dikuasai oleh emosi, yang menunjukkan orang boleh sewenang2nya menganggu gugat ketenangan jiwa kita. Kitalah yang memberi kuasa orang lain untuk menentukan apa kita rasa.

Dendam, menjadikan kita sukar melupakan sesuatu peristiwa, menjadikan kemarahan sukar reda dan kesakitan jiwa berpanjangan. Malah, apabila berjaya melaksanakan dendam, ia tidak pun menjadikan jiwa kita tenang, sebaliknya kita akan rasa lebih teruk dari sebelumnya. Dendam tidak membuat anda move on, tetapi ia menjadikan luka dalam hati anda kekal terbuka dan berdarah!

Islam sendiri tidak menggalakkan dendam. Dendam adalah untuk jiwa yang lemah. Orang yang jiwanya lemah, suka menyimpan dendam. Sebaliknya, kemaafanlah yang bisa melepaskan hati kita dari luka lara dan membebaskan hati kita dari beban sakit jiwa berpanjangan. Memaafkan orang lain, sebenarnya lebih kepada perbuatan diri kita untuk membebaskan diri daripada selamanya terbelenggu daripada memikirkan orang yang memberi tekanan kepada diri kita. Bila kita memaafkan, kita sebenarnya mendapat semula kekuatan dalaman, iaitu bahwa kita sudah merasa perkara tersebut bukan lagi sesuatu yang penting, membuang masa dan kita akhirnya bebas untuk merasa bahagia semula. Memaafkan, membebaskan jiwa kita.
Read More

0 Responses to Dendam, berbaloikah?